Ilustrasi beras kemasan ekonomis (jatimnet.com)

Kitogalo.com, Palembang – Beras Belitang Panen Raya atau lebih dikenal Beras Raja makin eksis melebarkan sayap usahanya. Tahun depan, beras asli Sumsel yang diproduksi PT. Belitang Panen Raya (BPR) ini resmi dipasarkan oleh salah satu minimarket terbesar di Indonesia.

Menurut owner Beras Raja Johan Winarta, pihaknya sudah menandatangani kontrak kerjasama dengan salah satu minimarket yang mempunyai banyak cabang di Indonesia.

“Struktur tanah di Sumsel bagus, karena itu beras ini enak daripada beras lain. Mudah-mudahan tahun 2019 pengiriman perdana kita lakukan” katanya saat ditulis Senin (3/12/2018).

Produksi Beras Raja ini pun dikelola di dua pabriknya, yaitu di Palembang dan Belitang. Kedua pabrik ini memproduksi 100 ton beras setiap tahunnya.

Beras Raja pun sebelumnya sudah dipasok di sejumlah pasar di tanah air, seperti Batam, Jawa Timur, Solo, Yogyakarta hingga Kalimantan.

“Beras kita berbeda dari beras lain, karena Sumsel punya irigasi terbesar di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU). Ini yang bikin nasi kita lebih enak,” ujarnya.

Melihat permintaan pasar yang terus meningkat, mereka juga meningkatkan produksi menjadi 150 ton pertahun. Dalam waktu dekat, PT. Belitang Panen Raya (BPR) akan melebarkan sayap dengan membangun pabrik ke Indonesia bagian Timur.

Gubernur Sumsel Herman Deru mengaku sangat bangga dengan perkembangan usaha lokal yang berkembang di pasar nasional. Meskipun awalnya pendirian pabrik banyak tantangannya, kini pengusaha lokal berhasil bersaing di tingkat nasional dengan beras produksi dari daerah lainnya.

“Sedikit demi sedikit image terbangun karena kualitas beras Belitang memang bagus. Ini komitmen saya terhadap pertanian. Beras itu harus pakai nama Belitang, papun produk unggulannya labelnya harus pakai nama sendiri,” ungkapnya.

Tantangan PT BPR untuk mempopulerkan beras ini memang tidak mudah, karena dulu image beras belitang sangat negatif. Selain berkutu, beras Belitang dulunya terkenal banyak bercampur batu.

“Dulu jemurnya di pinggir jalan, sekarang tidak lagi. Alhamdulillah image-nya berubah dan bisa terkenal, sama seperti gula. Waktu jadi bupati, saya mau teken Memorandum of Understanding (MOU) kalau mereka mau pakai nama Gula Komering,” katanya.