Foto Jumadi dan Fikri semasa hidup, pendaki asal Jambi yang meninggal dunia di Gunung Dempo Pagar Alam Sumsel (Dok. Instagram @sucianandita )

Kitogalo.com, Palembang – Misteri hilangnya dua pendaki asal Provinsi Jambi di Gunung Dempo Pagar Alam Sumatera Selatan (Sumsel) Jumadi (26) dan Fikri (19) yang akhirnya ditemukan meninggal dunia beberapa waktu lalu, akhirnya dibahas oleh istri Jumadi, Suci Andindita.

Melalui akun Instagramnya @sucianindita, perempuan ini mengungkapkan kejanggalan hilangnya suami dan adik kandungnya. Suci sedang haml 7 bulan, menceritakan kejanggalan yang dialami dia dan keluarganya.

Postingan yang diunggah dua hari lalu, bertuliskan tentang cerita yang sudah lama ingin dibeberkannya ke publik. Namun awalnya, banyak pertimbangan yang membuat dia dan keluarga bungkam. Dia juga meminta maaf jika ada pihak yang merasa terpojokkan.

“14 Okober 2019 adek sama suami berangkat dari rumah buat pendakian ke gunung dempo pagar alam. Dari bungo mereka berangkat jam 11-an mampir ke tempat kawan di Kapahiyang,” tulisnya di akun Instagramnya.

Suci lalu menceritakan di tanggal 15 Oktober 2019, suami dan adiknya melanjutkan perjalanan ke Pagar Alam Sumsel. Lalu sekitar pukul 15.00 WIB, suaminya mengirim pesan di aplikasi WhatsApp, jika mereka sudah sampai di Pagar Alam dan sedang beristirahat.

Sehabis magrib, suami Suci meneleponnya dan bilang jika Jumadi dan Fikri akan memulai pendakian. Ternyata itu adalah telepon terakhir dari suaminya yang diterima Suci.

Selama tiga hari Suci menunggu kabar dari suami dan adiknya, namun tidak ada kabar dan telepon. Suci tahu jika suami dan adiknya selalu mengabarinya dua hari setelah pendakian.

“Aku tetap berusaha berpikir positif, mungkin mereka belum sempat ngecas hp. Aku berusaha cari kontak kawannya yang di Kapahiyang buat nyari info,” lanjutnya.

Dari teman suaminya itu, Suci tahu kalau suami dan adiknya mendaki Gunung Dempo melewati jalur Tugu Rimau. Di waktu bersamaan, Suci juga berusaha mencari kontak orang pos pendakian Gunung Dempo.

Sejak saat itu, Suci merasakan kesulitan, karena suami dan adiknya selalu mendaki lewat Jalur Tugu Rimau tanpa ada pos penjagaan. Sehingga pendaki yang naik di jalur tersebut tidak terpantau.

Penjaga pos di Tugu Rimau Gunung Dempo Pagar Alam juga tidak bisa memastikan apakah suami dan adiknya memang melakukan pendakian atau sudah turun.

“Orang pos cuma bisa nanya-nanya sama pendaki yang turun dan beberapa pedagang di sekitar jalur pendakian via Tugu Rimau. Gak ada satu pun yang lihat mereka, jadi orang pos juga gak ada yang berani ambil kesimpulan, mereka benar-benar mendaki Gunung Dempo,” ungkapnya.

Di tanggal 20 Oktober 2019 malam, Suci sekeluarga dihubungi kembali sama penjaga pos Gunung Dempo Pagar Alam, jika ada pendai yang sempat ketemu adik dan suaminya di atas. Mereka juga sempat mendaki bareng dan mendirikan tenda berdekatan.

Dari pendaki itu, Suci mulai menemukan sedikit titik terang. Akhirnya mereka sekeluarga disuruh berangkat ke Pagar Alam. Dimana untuk tindakan lanjutnya membuat laporan di Polres Pagar Alam. Agar Tim SAR bisa turun untuk melakukan pencarian.

“Saat itu aku dalam kondisi hamil 7 bulan, aku kekeh mau ikut tapi mama ngelarang. Singkat cerita tanggal 21 (Oktober 2019) pagi, mama aku berangkat ke Pagar Alam ditemani 3 kawan pendaki adik dan suami aku. Mereka sampai di Pagar Alam udah malam,” lanjutnya.

Pagi hari di tanggal 22 Oktober 2019, mama dan kawanan pendaki ditemani petugas pos Gunung Dempo akhirnya pergi ke Polres Pagar Alam untuk membuat laporan kehilagan. Malam harinya Tim SAR dibantu tim Wanadri dan relawan langsung bergerak naik untuk pencarian suami dan adik Suci.

Pada hari Rabu (23/10/2019), tim pencarian mendapatkan baju, celana, sepatu dua unit bantal dan pakaian dalam yang kotor di daerah pelataran, pencarian pun tetap berlanjut. Hingga tanggal 25 November, seorang pendaki berinisial MG mendatangi pos relawan.

Dia menceritakan bagaimana kronologi MG bertemu dengan suami dan adik Suci. Menurut MG, dia bertemu dengan Jumadi dan Fikri di sekitar shelter 2 pada dini hari, tepatnya tanggal 15 Oktober 2019.

“(Mereka) berangkat bersama menuju ke pelataran, serta menginap di pelataran dengan jarak tenda yang sedikit berjaral. Dan mereka bertemu dengan seorang peziarah yang mengaku bertapa di atas gunung di sekitar pelataran,” postingnya.

Peziarah itu mengaku sudah berada selama 13 hari di pelataran Gunung Dempo Pagar Alam dan bertahan hidup dengan meminta makanan ke pendaki yang datang. Pada malam harinya, mereka sempat mengobrol, peziarah itu juga menginap di pelataran tersebut.

Lalu, peziarah itu mengatakan jika dia tidak suka dengan suami Suci. Dia sempat bicara jika saat dia masih muda, peziarah itu akan menghabisi orang yang menggunakan kalung. Kalimat itu ditujukan ke Jumadi.

“Karena ia tidak menyukai orang yang menggunakan kalung, tetapi mereka berbicara menggunakan bahasa daerah. Keesokan harinya pendaki MG sempat menghampiri tenda adik dan suami aku, tetapi tidak menemukan adik dan suami aku,” ucapnya.

MG hanya melihat dua gelas kopi yang masih hangat di depan tenda dan ia juga tidak melihat peziarah yang menginap di pelataran itu. Di hari yang sama, MG turun ke kaki gunung.

Foto Jumadi semasa hidup, pendaki asal Jambi yang meninggal dunia di Gunung Dempo Pagar Alam Sumsel (Dok. Instagram @sucianandita )

Pencarian Jumadi dan Fikri pun terus berjalan. Kesaksian dari MG diakuinya menjadi salah satu bukti jika suami dan adiknya melakukan pendakian di Gunung Dempo Pagar Alam.

Tim SAR, relawan dan para pendaki terus melakukan pencarian. Sampai akhirnya salah satu relawan menemukan baju kaos Jumadi di deka tenda peziarah, dengan lokasi yang berbeda.

Pencarian diperluas ke seluruh kawasan Gunung Dempo Pagar Alam, namun sempat tertunda karena cuaca yang buruk.

Pada tanggal 29 Oktober 2019, tim pencarian menemukan tracking pole, korek kriket dan botol minum di puncak gunung. Pada hari itu, tim juga menemukan kalung Jumadi, ditemukan tidak jauh dari penemuan tracking pole. 

Di tanggal 1 November 2019 tepatnya 10 hari pencaria, tim Wanadri meneropong daerah di sekitar kawan dan melihat ada seperti kantong berwarna biru di dekat kawah.

Di hari itu, seluruh tim dan keluarga melakukan briefing besar-besaran tentang pencarian selama 10 hari. Mereka menarik kesimpulan dari berbagai tim yang terjung langsung dalam pencarian.

Keesokan harinya, tim pencarian keseluruhan dikerahkan untuk naik ke puncak di sekitar kawah dan penelusuran daerah pelataran, serta daerah timur Gunung Dempo yang belum ditelusuri.

Saat tim Wanadri dan relawan mencoba berjalan lebih turun ke kawan, mereka meneropong kantong plastik biru yang terlihat sebelumya, ternyata pakaian yang digunakan Fikri.

“Seluruh tim dikerahkan menuju lokasi. Keesokan harinya, 4 orang tim relawan turun menuju ke lokasi adik dan suami aku. Mereka melakukan pengangkatan suami aku terlebih dahulu dan adik aku dievakuasi keesokan harinya,” katanya.

Jasad suami Suci dipulangkan ke rumah duka pada tanggal 3 November 2019 dan dimakamkan di kampung halamannya. Sedangkan jenasah Fikri dipulangkan tanggal 5 November 2019 dan dimakamkan juga di kampung halamannya.

Karena dibutuhkan waktu yang lama dari Pagar Alam menuju daerah asal Suci, keluarga yang berada di lokasi kejadian, langgsung bergegas pulang untuk mengikuti prosesi pemakaman.

Kepulangan keluarga dua pendaki yang terburu-buru, sehingga bukti pembayaran dari rumah sakit setempat belum bisa mereka dapatkan. Namun dari bukti yang mereka dapatkan dari proses pencarian, ada kejanggalan yang aneh.

“Kejanggalan itu ada dari banyaknya barang yang hilang dan beberapa bekas luka yang mencurigakan. Keluarga pun menindaklanjuti kasus ini dan mencari bukti lainnya. Kami menceritakan semua proses pencarian kepada keluarga yang bertugas di Polres Muara Bungo tempat kami tinggal,” katanya.

Keluarga Suci yang anggota polisi itu juga merasakan banyak kejanggalan terhadap kasus ini. Dia akhirnya berinisiatif untuk melacak ponsel adiknya. Dalam proses pelacakan, teman Fikri memberitahu jika dia sempat mendapat pesan dari Fikri di tanggal 9 November 2019.

Sedangkan dit anggal itu, suami dan adik Suci sudah dimakamkan. Keesokan harinya, ponsel adiknya terlacak di sekitar Kabupaten Lahat Sumsel. Ibu Suci langsung berangkat ke Pagar Alam untuk membuat laporan kehilangan barang-barang Jumadi dan Fikri, yang dibawa mendaki Gunung Dempo.

“Dari hasil lacakan hp adikku, kami mengetahu ada nomor yang mengaktifkan hp adik aku. Nomor itu terdaftar dengan nomor KK dari keluarga inisial RL. Mama mengirim data tersebut ke pihak polisi daerah Pagar Alam,” tulisnya.

Pihak kepolisian Pagar Alam meminta ibu Suci pulang dulu ke rumah sembari menunggu kelanjutan informasi. Aparat kepolisian akan menindaklanjuti dengan memanggil RL untuk dimintai keterangan dan kesaksian.

Dari kesaksian itu, RL mengaku jika HP itu dia beli dan dibawa anaknya ke Kota J. Tapi di hari yang sama, kerabat Suci yang bertugas di Polres Muara Bungo melacak kembali ponsel tesebut.

Kerabat Suci mendapatkan jika ponsel itu masih berada di daerah yang sama, namun posisinya berpindah dari tempat asal. Dalam beberapa hari, Suci sekeluarga mendapatkan kabar dari Polres Pagar Alam, jika disimpulkan ponsel yang dibeli RL bukan punya adik Suci.

“Nomor yang terdaftar di hp adik aku yang terlacak itu sudah aktif 2 tahun lalu. Sampai dimana pihak polisi Pagar Alam tetap melakukan pengembangan kaus terakhir dari kalian. 71 hari setelah kalian pulang dalam dekapan tuhan, kepergian kalian menjadi teka-teki bagi kami, teka-teki tanpa petunjuk, teka-teki tanpa alur,” ujarnya.

Saat Suci sekeluarga mencari cara untuk menemukan jawaban, orang-orang yang dianggap sangat menolong, datang mengulurkan tangan untuk menebak teka-teki ini. Namun di persimpangan jalan menuju jawaban itu, lanjutnya, orang yang membantunya seolah mundur tanpa bicara apapun.

Suci seakan melihat orang-orang yang menolongnya tidak kuat atau menutup mata dan telinga, agar semua ini seakan telah selesai dan sampai ke jalan buntu.

“Apakah sesulit itu prosedur untuk mengungkap teka-teki ini? Kehilangan dua sosok pemimpin tanpa ada kepastian yang kami dapatkan. Sudah ada jelas nyatanya kejanggalan yang ada dalam teka-teki ini,” ucapnya.

“Kepada siapa lagi kami mengadu dan meminta pertolongan. Kami hanya rakyat yang meminta keadilan dan kepastian hak kami,” katanya.

Editor : Nefri

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here