Wisata Kampung Kapitan (kitogalo.com/Heti Rahmawati)

Kitogalo.com, Palembang – Kampung Kapitan yang terletak di Kelurahan 13 Ulu Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel), sudah terkenal dengan sejarah kental etnis Tionghoa. Rumah berdampingan yang dulunya merupakan tempat tinggal polisi dari Negeri Tiongkok ini, banyak dikunjungi untuk menambah ilmu sejarah dan budaya Palembang.

Tidak hanya menjadi pusat wisata heritage saja, bangunan bersejarah ini juga difungsikan sebagai tempat belajar, atau disebut Rumah Belajar Kampoeng Kapitan.

Papan nama Rumah Belajar Kampoeng Kapitan tertulis jelas di salah satu pintu masuk ruangan rumah Kapitan. Aktivitas belajar mengajar ini awalnya diusulkan oleh para pengurus rumah Kampung Kapitan ke Dinas Pariwisata (Dispar) Sumsel.

“Rumah belajar ini memang kami minta langsung ke Kepala Dispar Sumsel, Irene Camelyn Sinaga, waktu itu dan langsung disetujui” kata Mulyadi, pengurus rumah Kampung Kapitan, kepada Kitogalo.com, Jumat (12/10/2018).

Inspirasi awal pembentukan rumah belajar ini, dikarenakan banyak anak-anak yang main disekeliling rumah Kapitan selama berjam-jam. Dirinya berpikir lebih baik mengajak anak-anak ini belajar bersama seminggu sekali, sehingga bisa menambah ilmu pengetaahuan.

Jadwal Rumah Belajar Kampoeng Kapitan ini digelar setiap hari Minggu, mulai dari pukul 10.00 WIB hingga 12.00 WIB. Sedangkan para pengajarnya yaitu para mahasiswa dari berbagai kampus di Palembang yang secara sukarela membagikan ilmunya.

“Yang memimpin Rumah Belajar Kampoeng Kapitan ini adalah Ibu Dina, anak-anak kuliahan dan anggota HPI yang membantu menjadi pengajar disini,”ucap Mulyadi, yang merupakan keturunan ke-14 Kapitan.

Tampak depan Rumah Belajr Kampoeng Kapitan (kitogalo.om/Heti Rahmawati)

Fasilitas yang disediakan disini berupa meja belajar dan juga buku-buku. Semua ini disediakan gratis untuk memudahkan proses belajar mengajar ke anak-anak sekitar rumah Kampung Kapitan.

Materi pembelajaran yang diberikan sangat beragam, mulai dari pengenalan abjad dan angka untuk anak usia dini, pelajaran Bahasa Inggris serta menghitung. Buku-buku yang ada di Rumah Belajar Kampoeng Kapitan ini merupakan sumbangan dari banyak pihak yang datang pada saat peresmian pertama.

Walau sudah dibuka dan rutin dijalankan, Mulyadi masih memiliki harapan yang sangat besar pada kegiatan sosial ini. Ia mengharapkan agar penambahan waktu belajar diperbanyak.

“Sekarang baru seminggu sekali, kalau bisa ditambah jadi dua atau tiga kali seminggu. Jadi disini selalu ramai dan anak-anak bisa lebih banyak mendapatkan ilmu tambahan,” katanya.

Heti Rahmawati

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here