Samuel Knoch, traveller dari Jerman berkunjung melihat kawasan Jakabaring Sport City (kitogalo.com)

Ini merupakan tulisan atau cerita mengenai para traveller dari luar negeri yang biasa dipanggil “bule” selama berada di Sumatera Selatan khususnya di Palembang. Mereka turis manca negara yang tidak hanya sekedar berlibur tapi juga ingin merasakan bagaimana tinggal dan berinteraksi dengan orang lokal. Base camp mereka selama di Palembang ada di Lord Café & Resto di mana mereka juga membantu mengajar bahasa Inggris gratis bagi para pengunjung kafe.

——-

Alhamdulillah. Hari yang ditunggu-tunggu telah tiba. Lebaran Idul Fitri 1 Syawal 1439 Hijriah kali ini bertepatan pada hari Jumát, 15 Juni 2018. Tapi, sedari pagi hujan deras mengguyur Kota Palembang sejak subuh hingga menjelang salat Idul Fitri. Bahkan, sekitar pukul 07.00 WIB lebih, hujan masih juga tak henti tumpah dari langit. Saya sedikit cemas dengan rencana salat Idul Fitri yang biasanya masjid penuh dengan jamaah. Bagaimana kalau saya tidak dapat tempat di dalam masjid? Di luar kan becek. Repot nian, pikir saya. Untunglah, hujan perlahan mulai sedikit reda di sekitar rumah saya di kawasan Perumnas Talang Kelapa, Alang-Alang Lebar, dan saya sekeluarga pun beranjak ke masjid terdekat untuk menunaikan salat Idul Fitri.

Lebaran tahun ini cukup menarik. Saya kedatangan teman sekaligus tamu jauh yang menginap di rumah. Dia adalah traveller dari Jerman bernama Samuel Knoch. Samuel sengaja “berlabuh” ke Palembang setelah sebelumnya menghabiskan waktu liburan di Bali dan Lombok selama dua minggu. Dia memilih Palembang karena dalam bayangannya Kota Pempek berbeda dengan dua tempat wisata sebelumnya, tidak terlalu banyak turis terutama turis asing. Dia berencana menghabiskan waktunya sekitar dua minggu di Palembang.

Sam, biasa ia disapa, sepertinya masih tidur saat saya meninggalkan rumah menuju masjid untuk salat Id. Saya tak hendak membangunkannya, toh ia juga tidak salat. Sam beragama Protestan. Saya biarkan ia masih menikmati mimpi di pagi hari lebaran di saat semua muslim di Palembang berbondong-bondong menuju masjid menunaikan salat Id. Biarlah, mungkin ia masih lelah sisa semalam. Lalu, beberapa jam kemudian, ia pun sudah rapi dan duduk di meja makan bergabung bersama keluarga saya menikmati menu ketupat lebaran dengan lauk opor dan rendang.

“Yang paling berkesan bagi saya adalah saat lebaran mengunjungi rumah-rumah dan sanak keluarga. Banyak makanan dan makan terus,” kata dia sambil senyum-senyum saat ditanya mengenai kesannya berlebaran di Palembang, Jumat, 22 Juni 2018.

Layaknya lebaran, Sam tentu saja saya ajak sanjo. Sanjo merupakan bahasa Palembang yang artinya bertandang ke rumah-rumah tetangga, teman atau keluarga. Ini tradisi lebaran dan kata ini makin sering terdengar saat hari lebaran tiba. Semua orang pasti sanjo-sanjo. Namanya juga lebaran. Ya, silaturahmi.

Hari lebaran pertama, saya tidak ke mana-mana. Usai salat, saya sekeluarga berziarah ke makam almarhumah Ibu yang tidak terlalu jauh dari rumah. Sam pun ikut ke sana. Selagi kami membaca Surat Yassin, pria kelahiran Munich itu hanya duduk memperhatikan tak jauh dari kuburan Ibu saya.

Sam melihat bagaimana ramainya Pemakaman Kebun Bunga, yang penuh dengan mobil dan para peziarah. Saya jelaskan padanya jika tradisi ziarah di hari pertama lebaran memang jamak dilakukan khususnya para pemudik. Sebab, momen mudik itulah mereka bisa “bertemu” dan mengirim doa untuk kakek, nenek, orang tua, anak, atau keluarga mereka yang sudah lebih dulu menghadap yang kuasa.

Saat lebaran kedua dan ketiga, pria yang jago memainkan biola ini saya ajak berkeliling untuk sanjo ke rumah keluarga. Tentu saja kehadirannya cukup membuat heboh. Sebab, sangat jarang beberapa keluarga saya kedatangan tamu bule. Jadilah Sam diajak foto-foto dan boomerang untuk diposting di instagram oleh beberapa sepupu yang berusia lebih muda dari saya. Namanya juga anak zaman now, cekrek-cekrek, upload. Biar kekinian gitu loh.

Lebaran keempat, seharian Sam saya ajak sanjo dengan beberapa teman kerja saya. Sekali lagi, dari rumah ke rumah yang tentu saja menunya tidak jauh dari pempek dan tekwan. “Saya sangat suka makanan lokal seperti pempek. Saya banyak makan pempek, di setiap rumah,” kata dia mengingat pengalaman sanjo saat lebaran. Ya, semua rumah yang dikunjunginya mayoritas menghidangkan pempek sebagai menu andalan.

Bahkan, hari berikutnya masih dalam suasana lebaran, Sam sempat saya ajak sanjo ke rumah salah satu tokoh di Palembang yang dikenal dengan panggilan “Babe Herlan” yang merupakan Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sumsel. Dia juga sempat bertemu dengan Kepala Dinas Budaya dan Pariwisata Sumsel Irene Camelyn Sinaga di rumah Babe. Di sana, selain makan beberapa penganan dan juga pempek tentunya, ternyata Sam menghabiskan tiga piring mie celor loh, hehehe…

Samuel sanjo ke Rumah Babe Herlan (ist)

Sebagai traveller, Sam merupakan teman yang asik dan tidak merepotkan. Sejak tiba di Palembang empat hari jelang lebaran hingga hari-hari berikutnya, ia tidak pernah mengeluh. Diajak ke mana pun ia oke-oke saja. Dan yang paling penting, soal makanan pun ia tak pernah rewel. Sam makan semua makanan yang ada di rumah saya yang pastinya tak jauh-jauh dari menu Indonesia dan makanan tradisional khas Palembang. Sebut saja, nasi, gado-gado, sate ayam, soto, sayur asem, pempek, tekwan, dan rendang yang merupakan salah satu makanan favoritnya selama lebaran.

Sam juga makan kue-kue khas Palembang seperti Kue 8 Jam dan Maksuba. Untuk kue yang satu ini ia ingat betul walau belum bisa membedakan bentuknya. Sebab, ia sudah tahu cerita mengenai kue andalan yang memang namanya sesuai dengan lama pembuatannya yaitu delapan jam. “Is this Eight Hours? Ow, maksuba,” ujarnya bertanya kepada Dini, teman saya yang menyorongkan kue maksuba buatannya saat sanjo ke rumah salah satu teman kami.

Pria yang bekerja sebagai desainer grafis itu mengaku menikmati liburannya selama dua minggu di Palembang. Ia juga senang melihat perkembangan Kota Palembang yang dua bulan lagi bakal menjadi tuan rumah Asian Games ke-18 bersama Ibu Kota Jakarta pada Agustus nanti. Pesta olahraga akbar se-Asia yang diikuti 45 negara termasuk Indonesia itu bakal mempertandingkan 13 cabang olahraga di Palembang.

“Mengagumkan bahwa akan ada Asian Games di sini. Banyak (infrastruktur) yang sedang dibangun dan diperbaiki untuk menyambut Asian Games,”ujarnya di hari terakhir saat diajak melihat-lihat dan berfoto di Jakabaring Sport City, area tempat berlangsungnya Asian Games nanti.

Dari semua pengalaman tersebut,  masih ada satu lagi yang bakal paling diingat Sam nantinya jika pulang ke kampung halamannya, Munich, Jerman. Ia pernah punya pengalaman berpuasa di bulan Ramadan selama dua hari, tepatnya di hari terakhir Ramadan alias sebelum lebaran.

Sam mengaku belajar banyak hal mengenai tujuan di balik perintah berpuasa di bulan ramadan. Berpuasa, kata dia, sangat bagus karena tidak hanya menahan lapar untuk mengatur badan dan pikiran, tapi juga menahan emosi dan banyak hal lainnya yang positif. “Ini pengalaman pertama saya. Sangat sulit tapi menarik, merasakan bagaimana tidak makan dan tidak minum. Paling sulit itu tidak minum, tapi semuanya terasa menyenangkan saat berbuka,” ujarnya.

Malam terakhir di Palembang, Samuel berfoto dengan latar Jembatan Ampera (kitogalo.com)

Selama dua minggu di Palembang, terhitung tanggal 11 Juni – 23 Juni 2018, Sam punya banyak kenangan dan pengalaman yang menurutnya susah dilupakan. “Terima kasih. Saya bertemu banyak orang dan orang-orang yang baik. Menurut saya orang Indonesia sangat menarik dan open minded, ramah dan sangat baik,” kata pria berusia 29 tahun yang murah senyum itu.

Muna Suúd

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here