Suasana Festival Sriwijaya (kitogalo.com/Heti Rahmawati)

Kitogalo.com, Palembang – Festival Sriwijaya merupakan acara pagelaran kebudayaan tahunan yang dilaksanakan oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. Dalam event tersebut 17 kabupaten/kota di Sumatera Selatan berkesempaan untuk menampilkan pagelaran seni, seperti tarian, drama musikal, lagu daerah, juga kuliner khas masing-masing daerah.

Acara tahunan ini bertujuan tak lain untuk melestarikan nilai-nilai budaya, meningkatkan citra Sumatera Selatan sebagai daerah tujuan wisata. Selain itu, peningkatkan pemberdayaan ekonomi kerakyatan, serta penampilan puncak kreatifitas dan kearifan lokal daerah juga bisa disaksikan di sini.

Dilaksanakan pada 22-27 Agustus 2018, kegiatan ini berlokasi di Pelataran Benteng Kuto Besak (BKB). Acara ini memberikan kesempatan pada dua kabupaten/kota untuk menunjukan kebolehannya dihadapan dewan juri pada setiap malamnya.

Perwakilan dari tiap-tiap kabupaten/kota memiliki antusias yang tinggi untuk menjadi pemenang sehingga sudah mempersiapan diri dari jauh-jauh hari. Salah seorang pemain teater asal OKU Selatan bernama Sustiana Fatika  mengatakan timnya sudah mempersiapkan penampilan selama satu bulan.

“Tim kami latihannya kurang lebih satu bulan. Kita kan timnya campuran dari beberapa kecamatan di OKUS,” kata perempuan yang mendapat karakter siluman naga ini di pelataran BKB, Palembang, Jumat, 24 Agustus 2018.

Jumat malam itu yang berkesempatan tampil ialah perwakilan dari Kabupaten Lahat dan OKU Selatan. Karena Kabupaten Lahat tidak mengirim representasinya, acara cukup meriah dengan penampilan tunggal dari OKU Selatan. “Malam ini harusnya kita tampil kedua setelah Lahat, tapi mereka tidak datang jadi cuma kita,” ujar dara yang kerap disapa Ana ini.

Di festival ini, tema yang diangkat sangat beragam karena memang menampilkan kearifan lokal di kabupaten masing-masing. “Kita akan tampilkan legenda Danau Ranau malam ini,” kata Ana.

Dalam menampilkan kebolehannya, masing-masing tim akan menampilkan nyanyian daerah, teater dan juga tarian. Dalam kesempatan ini, Tim OKU Selatan membuka penampilannya dengan lagu daerah Ranau, dengan judul “Ranau sai Bekham” atau yang artinya Ranau milik kita.

Dilanjutkan dengan seni teater legenda Danau Ranau yang menceritakan sepasang naga penunggu Hutan Seminung yang dibunuh oleh seorang pertapa bernama Rakihan karena dipercaya keduanya telah memakan banyak mangsa. Si pertama memotong pohon raksasa di tengah hutan yang diketahui sebagai tempat tinggal sepasang naga tersebut. Ternyata, penebangan itu mengakibatkan keluarnya air deras yang kemudian menjadi danau yang kemudian dikenal dengan nama Danau Ranau.

Penampilan tim Serasan Seandanan ini ditutup dengan tarian “Anak Limau” yang disajikan oleh tiga penari pria dan lima penari wanita dibalut dengan kostum ungu yang cantik nan elegan.

Pada tahun ini, Festival Sriwijaya sudah dilaksanakan untuk ke-27 kalinya. Perbedaan dari tahun-tahun sebelumnya adalah ajang unjuk kebolehan seni daerah ini juga ikut memeriahkan Acara Asian Games 2018. “Ini bukan pertama kalinya kami ikut. Tapi tahun ini berbeda karena kami bisa menjadi salah satu pengisi acara yang turut memeriahkan Asian Games 2018,” tutur gadis berusia 20 tahun itu.

Acara yang rutin dilaksanakan di BKB ini memang menghibur masyarakat sehingga tak heran banyak yang datang dan menikmati acara yang tersaji. “Acaranya bagus, keren, kadang buat penasaran apa yang ingin mereka tampilkan,” kata Novi, salah satu pengunjung yang puas dengan acara malam itu.

Heti Rahmawati

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here