Kitogalo.com – Kamu pernah menghadiri acara pernikahan dengan adat Palembang atau Sumatera Selatan? Atau mengikuti acara seremonial pemerintah daerah di Sumsel dan sekitarnya? Jika pernah, pasti kamu akan menyaksikan suguhan Tari Gending Sriwijaya.

Di acara pernikahan, biasanya pengantin dan tamu undangan akan disambut dengan tarian khas yang dimainkan oleh perempuan-perempuan cantik yang melenggak-lenggok mengikuti alunan musik. Kemudian, mereka akan menyodorkan sirih sebagai ucapan selamat datang. Tari tradisional ini biasanya dimainkan oleh 9 orang  penari. Lalu, bagaimana bisa Tari Gending Sriwijaya menjadi bagian tradisi adat di Palembang dan Sumatera Selatan?

Tari Gending Sriwijaya bermula dari masa Kerajaan Sriwijaya. Seiring berjalannya waktu, tarian ini menjadi sakral di Sumatera Selatan sehingga tidak boleh digeral di ruang terbuka. Sekitar tahun 1990-an, Kantor Wilayah Depdikbud Provinsi Sumatera Selatan menerbitkan deskripsi Tari Gending Sriwijaya yang penyuntingnya diketuai oleh almarhum Izi Asmawi. Berdasarkan deskripsi itu, disebutkan bahwa tari Gending Sriwijaya adalah satu dari sekian tari sambut atau tari persembahan yang ada di Sumatera Selatan.

Sebenarnya, proses penciptaan Tari Gending Sriwijaya sudah dimulai sejak 1943 untuk memenuhi permintaan dari pemerintah (era pendudukan Jepang) kepada Jawatan Penerangan (Hodohan) untuk menciptakan sebuah tarian dan lagu guna menyambut tamu yang datang berkunjung ke Karesidenan Palembang (sekarang Provinsi Sumatra Selatan).

Penata tarinya adalah Tina Haji Gong dan Sukainah A. Rozak. Berbagai konsep telah dicari dan dikumpulkan dengan mengambil unsur-unsur tari adat Palembang yang sudah ada, dalam upaya menata tari Gending Sriwijaya ini. Pakaian dan properti yang digunakan dalam Tari Gending Sriwijaya disesuaikan dengan pakaian adat daerah dengan peralatan yang biasa digunakan pada upacara penerimaan tamu secara adat yaitu dengan penyuguhan Tepak Sirih.

Jumlah penari sebanyak sembilan orang sebagai simbolisasi dari Batang Hari Sembilan atau sembilan sungai yang ada di Sumatera Selatan. Maksudnya, dengan Tari Gending Sriwijaya penyambutan tamu dimaksudkan atas nama seluruh daerah yang ada di wilayah Sumatera Selatan. Selain dari kesembilan orang penari, ada juga pengiring yaitu: seorang penyanyi yang menyanyikan lagu Gending Sriwijaya, seorang pembawa payung kebesaran, dan seorang atau dua orang lainnya adalah pembawa tombak.

Musik atau lagu pengiring Tari Gending Sriwijaya, dinamai (berjudul) juga lagu Gending Sriwijaya. Penciptanya adalah A. Dahlan Muhibat, seorang komposer juga violis pada group Bangsawan Bintang Berlian, di Palembang. Lagu Gending Sriwijaya diciptakan pada tahun 1943 tepatnya dari Oktober hingga Desamber.

Ketika proses penciptaannya, pemerintah menyodorkan usul pada Dahlan Muhibat untuk memasukkan sebuah konsep lagu Jepang. Karena, konsep lagu Jepang hanya berupa usulan maka oleh Dahlan dipadukanlah sebuah lagu ciptaannya pada tahun 1936, yang berjudul “Sriwijaya Jaya” dengan konsep lagu Jepang itu, sehingga menjadi lagu Gending Sriwijaya seperti yang ada sekarang. Sedangkan untuk syair lagu Gending Sriwijaya, dibuat oleh Nungcik AR.  Dengan selesainya penataan tari dan penyusunan lagu Gending Sriwijaya tersebut, maka tuntaslah proses penggarapan tari dan lagu Gending Sriwijaya, pada tahun 1944.

Dalam deskipsi Tari Gending Sriwijaya juga disebutkan bahwa Tari Gending Sriwijaya pertama kali dipentaskan di muka umum pada tanggal 2 Agustus 1945, di halaman Masjid Agung Palembang. Kesembilan penarinya adalah: Siti Nuraini, Rogayah H, Delima A. Rozak, Tuhfah, Halimah, Busron, Darni, Emma, dan Tuti Zahara.

Pentas digelar sebagai upacara penyambutan kedatangan pejabat zaman Jepang di Palembang yakni M. Syafei dan Djamaluddin Adinegoro. M. Syafei adalah Ketua Sumatora Tyuo Sangi In (Dewan Perwakilan Rakyat Sumatera), yang berkedudukan di Bukittinggi, Sumatra Barat. Sebelum masa pendudukan Jepang, M. Syafei adalah direktur perguruan INS (Indonesche School), di Kayutanam, Sumbar. Sedangkan, Jamaluddin Adinegoro adalah Ketua Dewan Harian Sumatera, seorang wartawan sekaligus sastrawan yang terkenal pada waktu itu. Pada saat Tari Gending Sriwijaya pertama kali dipergelarkan di halaman Mesjid Agung kala itu,

Tari Gending Sriwijaya ini sudah hasil modifikasi. Tarian beserta lagu pengiringnya untuk mengingatkan para pemuda bahwa nenek moyang adalah bangsa yang besar yang menghormati persaudaraan dan persahabatan antar manusia dan hubungan antara manusia dengan Sang pencipta. Tari tersebut melukiskan kegembiraan gadis-gadis Palembang saat menerima tamu yang diagungkan.

Alex R

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here